HALAMAN BARU UNTUK MENULIS PUISI

Setelah kutelusuri sebuah kata-kata yag mampir tanpa rencana

Aku pergi ke halaman kertas ini
Dan aku menulis
Menulis sesuatu yang jadi gigil tubuhku
Kakiku, tanganku.
Wajahku sayu
Tak bertepi menyinari
Rasanya kaulah kertas putih yang sanggup menerangiku
Memancarkan aroma cahaya 
Dan puisiku terlampir di sini
Mengungkapkan hal-hal yang terasa perih 
Dan kau lah mungkin obat yang manjur
Kau mengobati dukaku
Kau yang membuat duniaku jadi berdua kembali
Aku mencintaimu puisi
Bait-bait yang kuatur sendiri 
Tanpa ada jiwa yang lain yang mengisi 
Kita berpadu 
Dan saling bergoyang dansa dengan jemari 
Menari dalam keluapaan 
Bahwa “akulah cinta 
Aku lah anggur jiwa, akulah mawar”

Aku salin beberapa kata berikut waktu 
yang menyediakanku untuk berlabuh dengan pena 
selagi aku mendayung 
rahasiaku terungkap di sini.
Tapi aku tak punya malu untuk berikan rasa padamu
O, puisiku 
Aku petir yang menyambar abjad-abjadmu 
Jadi terpecah dan aku mengembalikan pecahan itu 
Merapikannya dengan malam 
Karena sunyi datangnya pada malam hari 
Ketika aku berbaring di atas kasur yang longgar dengan ketiadaan 
Seseorang telah jauh dari pelupuk mataku

Yang kutatap adalah gambar-gambar yang kubuat sendiri 
dengan lukisan tangan dan jiwa
Dan puisi yang terabit di dalamnya

Puisiku belum selesai 
Belum sampai pada titik temu 
Karena dia belum mendapat signal yang kuat dariku
Maka 
O Tuhan, aku berdoa dalam rengkuh syukurku padamu 
Atas segala yang kau ciptakan dengan berbagai anugrahnya
Kuingin dia merangkum jiwaku untuk malam ini 
Pada tanggal yang kurasa genap.
Sebab aku hilang waktu 
Entah dimana aku
Waktu telah memaksaku datang ke muara sunyi
Dia belum masuk dan mengetuk jendela kamarku 
Atau mengirimkan hembusannya 
: nafas yang segenap rasa kutahu bahwa dialah kehidupan

Dan 
Aku akan melanjutkan jawabanku besok
Ataukah akan datang di mimpiku yang kedap

Cianjur, 06 Februari 2009
@ 21.38 

Aku lanjutkan puisiku 
yang judulnya masih teromabng-ambing 
dengan pesan dingin 
dan masih pada malam yang sama
asalnya puisi ini akan terhenti sejenak.
Tapi kabar lain mengumbar
Paru-paruku tambah sesak 
Dia menganggap aku seperti sedia kala

Dia menggap baik
Tapi justru aku yang menganggap dia buruk
Ah
Dasar perasaan 
Kemanakah arah yang licin 
Biar aku bisa melaju 
Dan berselancar dengan cahaya
Berpacu dengan kerlip-kerlip malam 
Dan melupkan sesuatu 

Karena kurasa rembulan tiada 
Dan bintang-bintang ngumpet di balik awan malam 
Maka kuciptakan sendiri-lah kerlip itu dengan puisiku ini

Semoga aku bisa memahami sajak ini dengan baik. Amin.

@21:44

                                                    Ihsan Subhan, Februari 2009

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "HALAMAN BARU UNTUK MENULIS PUISI"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel