HEGEMONI SASTRA

refleksi sastra
Oleh Ihsan Subhan

Kehidupan memang persis sama dengan lampu-lampu. Berpijar dan mengangkat cahaya. Menerangi. Tapi lampu-lampu itu tidak selamanya nyala. Kadang jika listriknya habis atau bahan bakernya habis. Coba siapa yang mau memijarkannya? Bintagn-bintang kah? Ya. Bintang-bintang. Dia adalah kerlipan abadi tanpa kita reka. Cuma Tuhanlah yang bisa mereka-rekanya. Tapi sungguh kerlipnya membuatku nyaman. Bahagia. Memukau. Seperti kerlip dimataku juga. Ada kerdip yang sama seperti bebintang itu.

Sudut kerlip memang sengaja di racik untuk memenuhi konten ranah kesusastraan. Ia selalu memijar dan menggoda. Dan sungguh aku ingin menggoda kalian dengan suguhan puisi yang sederhana ini. Tidak hanya itu. Memang pada dasarnya sastra itu luas. Tapi yang lebih kucintai diantara karya sastra yang ada. Cuma puisi. Seperti Arsyad Indradi yang getol nulis puisi dan memproduksi buku antologi puisi dari tahun ‘60an - sekarang. Tapi aku bukan dia. Hanya mungkin ada kesamaan (dikit lah) dari segi proses berkaryanya.

Sudut kerlip memang ruang yang sederhana dari yang sederhana. Artinya tidak ada yang musti anda pikirkan sampai otak jadi bisu dan rambut jadi rontok. Ini hanya perpaduan antara realistis dengan proses imajinatif pemikiran seorang Ihsan Subhan dan beberapa orang yang tertaut dan terpaut di dalamnya.

Indonesia memang masih memalukan, itu yang terekam di benak saya. Telinga saya masih basah dan kerap mencerna santapan kata-kata dari seorang Ferdinan De JE Saragih (Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra di UPI, penulis dan pengelola rangkuman dunia). Beliau menulis kata-kata itu di jejak pengunjung blog saya. Setelah saya kaji. Memalukannya terletak di mana? (maka saya jawab sendiri dalam hati) Oh, mungkin terletak dari segi pemerintahannya. Sebab yang kita ketahui untuk saat-saat ini yang gempar dan gempur adalah persoalan di dunia politik, dunia pemerintahan. Tapi bukankah sastra juga ada politiknya. Hegemoni dalam bersastra itu pernah saya kaji dalam mata kuliah Sosiologi Sastra. Dimana ada pergulatan dan persaingan antara karya sastra dalam sosiologinya (masyarakat). Bahkan yang pernah saya pantau Indonesia pernah memilki kasus “penghargaan sastrawan” masih memalukan memang dan Ironis sekali. Ko kenapa Negara tetangga kita sampai demikian meriahnya memberi penghargaan kepada sastrawan Indonesia. Sedangkan Indonesia sendiri belum bisa atau kurang menghargai para sastrawan di Indonesia sendiri.
Masih Ingat sastrawan dan budayawan Indonesia, dan beliau juga adalah penulis yang handal di bidang jurnalistik. Ya. Betul sekali. Beliau adalah Mochtar Lubis. Dengan sangat rendah hatinya, beliau mengembalikan “Hadiah Magsaysay” dari Filiphina.

Berikit kutipannya, saya ambil dari arsip Majalah Berita Mingguan GATRA Edisi 9 September 1995 (No.43/I), di rubric Nasional, dengan judul Magsaysay “Lubis Tak Cuma Menggertak” yang dilaporkan oleh Priyono B. Sumbogo dan Akmal Nasery Basral.
Berikut kutipannya:

Mochtar Lubis mengembalikan Hadiah Magsaysay. Kasus Pramoedya
didukung di Jakarta, ditentang di Filipina.

ANCAMAN budayawan dan sastrawan Mochtar Lubis untuk mengembalikan
Hadiah Magsaysay yang diterimanya tahun 1958 tak cuma gertak
sambal. Dalam suasana serba salah di kantor pusat Yayasan Ramon
Magsaysay di Manila, Filipina, Rabu pekan lalu, Ketua Yayasan
Ramon Magsaysay, Bienvenido A. Tan, menerima pengembalian itu.

Mochtar tampak tersenyum lebar ketika memulangkan medali
bergambar almarhum Presiden Ramon Magsaysay yang sekitar 37 tahun
disimpannya. Pada kesempatan yang sama, Mochtar menyerahkan pula
US$ 1.000, sebagai angsuran pertama US$ 5.000, hadiah uang yang
pernah diterimanya dari Yayasan Magsaysay. Sisanya akan
dibayarnya bertahap.

Bienvenido menerima semua pengembalian itu dengan senyum tertahan
dan pandangan kecewa. Mochtar tampaknya mengerti bagaimana
perasaan Bienvenido. Maka dengan mencoba tetap tersenyum ramah,
ia mengucapkan sambutan singkat yang menghibur di hadapan sekitar
40 hadirin, belum termasuk wartawan. “Saya mengembalikan
penghargaan ini dengan berat hati, karena saya sangat menghargai
dan menghormati Presiden Ramon Magsaysay. Tapi justru karena
menghargai dan mencintai beliau saya merasa berkewajiban
mengembalikan penghargaan ini,” begitu ujar Mochtar seperti
dikutip Manila Bulletin, 31 Agustus silam. Bienvenido menjawab,
“Kami juga tak ingin melakukan semua ini. Apa yang terjadi di
antara kita semata-mata hanyalah perbedaan pendapat,” tutur
Bienvenido.

Itulah puncak drama seniman yang dalam beberapa minggu terakhir
menjadi bahan perdebatan. Seperti diberitakan media massa, Juli
silam, Yayasan Magsaysay mengumumkan akan memberikan Hadiah
Magsaysay kepada empat tokoh Asia. Satu di antaranya Pramoedya
Ananta Toer, bekas tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang
dibentuk Partai Komunis Indonesia (PKI) di zaman Orde Lama.

Yayasan Magsaysay menyebut Pramoedya sebagai sastrawan dan
wartawan yang tak henti-hentinya membuahkan karya yang
berkualitas. Perburuan, Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Nyanyi
Sunyi Seorang Bisu, dan sejumlah karya Pram lainnya, menurut
Yayasan Magsaysay, menunjukkan konsistensi dan keprihatinannya
yang mendalam terhadap penderitaan manusia di tengah perang,
pergolakan, dan kemiskinan yang parah.

Mendengar pengumuman Yayasan Magsaysay tersebut, permulaan
Agustus lalu, tak kurang dari 26 seniman dan budayawan terkemuka
Indonesia mengeluarkan pernyataan keras. Mereka antara lain H.B.
Jassin, Wiratmo Soekito, Taufiq Ismail, D.S. Moeljanto, Bokor
Hutasuhut, dan Mochtar Lubis.

Isi pernyataan itu memang tak secara ekplisit mendesak Yayasan
Magsaysay untuk membatalkan keputusan memberi hadiah kepada Pram.
Mereka hanya mendakwa yayasan telah melupakan peran tak terpuji
Pram di zaman Demokrasi Tepimpin pada tahun 1960-an, tatkala
tokoh Lekra ini terlibat memasung gerakan untuk memperjuangkan
kebebasan kreatif. Umpamanya Pram mengelu-elukan pembakaran buku
karya lawan-lawannya di Jakarta dan Surabaya. “Rasanya sangat
ironis bila dengan keputusan tersebut Pramoedya duduk sebangku
dengan pemenang Magsaysay Mochtar Lubis dan H.B. Jassin,”
demikian sebagian bunyi pernyataan itu.

Tak lupa mereka menjelaskan sosok Mochtar sebagai pejuang
kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia tulen. Begitu pula
H.B. Jassin. Di akhir pernyataan itu mereka menilai, dengan
memberikan hadiah kepada Pram, Yayasan Magsaysay mendukung tindak
penindasan kebebasan kreatif. Mochtar sendiri meluncurkan
ancaman. “Jika hadiah itu tetap diberikan kepada Pram, saya akan
mengembalikan Hadiah Magsaysay yang pernah saya terima,” katanya.

Pada akhirnya keputusan Yayasan Magsaysay tak berubah, meski
mengaku memahami ketidakpuasan 26 seniman Indonesia. “Kami tahu
Pramoedya adalah seniman Lekra, tapi ia sudah membayar mahal
dengan mendekam 15 tahun di Pulau Buru. Tapi alasan utama mengapa
kami memberikan hadiah kepada Pram adalah karena melihat kualitas
karya-karyanya,” demikian kata Bienvenido ketika dihubungi lewat
telepon oleh Akmal Nasery dari Gatra

Kamis pekan lalu _ sehari setelah Mochtar mengembalikan hadiahnya
_ istri Pram, Maemunah Thamrin, mewakili suaminya untuk menerima
medali dan uang US$ 50.000 (lebih dari Rp 100 juta) dari Yayasan
Magsaysay. Acara penyerahan itu berlangsung di gedung Pusat
Kebudayaan Filipina, Manila, disaksikan sekitar 500 hadirin. Pram
sendiri tak bisa hadir karena tak memperoleh paspor.

Di Jakarta, peristiwa pemberian hadiah untuk Pram itu mendapat
dukungan lebih dari 150 orang dari berbagai profesi, antara lain
Bintang Pamungkas, Sukmawati Soekarnoputeri, Marianne Katoppo,
Ariel Heryanto, dan Nirwan Dewanto. Nama lainnya kurang dikenal,
mungkin terdiri dari anak muda yang lahir setelah tahun 1965.
Tanggal 30 Agustus _ persis ketika Mochtar mengembalikan
hadiahnya _ mereka membuat pernyataan mendukung Pram. Alasannya,
antara lain, karya Pram telah memperkaya kehidupan intelektual
dan kebudayaan Indonesia.

Tapi sebaliknya di Filipina, sejumlah penulis dan budayawan
setempat, justru mengecam keputusan Yayasan Magsaysay. Misalnya
F. Sionil Jose (penulis) dan Belen Abreu (bekas komisaris
eksekutif Yaysan Magsaysay). Jose yang pernah berada di Indonesia
pada tahun 1960-an mengaku tahu persis latar belakang Pramoedya.
“Ia bertanggung jawab atas dipenjarakannya penulis-penulis
Indonesia yang bertentangan dengannya,” kata Jose, yang
diwawancarai wartawan Filipina.

Setelah kita kaji kutipan di atas. (sengaja saya tampilkan semua isi tulisannya, supaya jelas sejarahnya, dan kita pun mengenal tulisan atau laporan dari Priyono B. Sumbogo dan Akmal Nasery Basra dari redaksi GATRA. Ada keakuratan yang sangat jelas dalam tulisan di atas. Sengaja mungkin Priyono B. Sumbogo dan Akmal Nasery Basral untuk menulisnya. Terlihat dari gaya dan Isi penulisan belia bahwa mereka sangat perduli dengan dunia sastra dan kabar hegemoni sastra.
Beberapa tahun ke belakang. Dunia sastra memang bergejolak di berbagai media cetak. Akan tetapi berbeda dengan masa sekarang, yang lebih digital. Karya sastra dan info-info sastra tidak hanya didapat di media cetak saja. Akan tetapi duni aInternet adalah salah satu media yang membudaya di belahan dunia. Maka di www.wikipedia.com menyebutkan angkatan sastra zaman sekarang bisa dikatakan angkatan syber sastra. Apakah anda termasuk di dalamnya?
Berbicara masalah sastra dan budaya memang banyak yang musti dikaji. Dan saya adalah seorang penulis muda yang belum tersohor, mencoba ingin berproses di dalam dunia sastra, ya. Minimal lewat Sudut Kerlip Sastra ini. (Ihsan Subhan @Feb 2009)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "HEGEMONI SASTRA"

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel