A. Faruqi munif (qq.chika@gmail.com)

TAK SAMPAI

aku semadi merangkaki dinding maghrib
saat jalanan lengang penuh peristiwa sengketa
lampu-lampu pijar panjang berjejer
di samping gelap yang senggama dengan bulan
april mengirim banyak langkahku yang gagal
memuat musim penghujan membanjiri
danau-danau

aku berada di tengah rerimbun
orang-orang yang meneriaki telinganya sendiri
dengan kata-kata dalam novel
menceritakan kisah hujan yang tak turun
dan kematian penyair dalam perjalanan
mengisi sebuah seminar

antaranya,
terdapat jutaan anak-anak jadah
mengerubuti minuman dan makanan
yang tercecer pada ember, sampah dan
kaleng-keleng soda

“padamkan mataku” rilke berjalan di atas kepalanya
ia berjalan dalam arah yang tak ia ketahui
aku membuntuti, saat tanganku tak bisa menyentuh
segala yang bisa tersentuh

aku menemukanmu,
dalam langkahku yang tertunda
jam-jam patah;
jarumnya meluruhkan beribu
tanda Tanya
matamu menghunjam dada
aku berlari menuju kota-kota yang
tak bisa memaknai tubuhnya

(di situ,
kau tersedu
aku tersedak melihatmu)

aku semadi,
dalam musim-musim yang tanggal
dalam muara yang kehilangan rupa
luka-luka memar di mataku.

A. Faruqi munif
Lubangsa, 060410

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "A. Faruqi munif (qq.chika@gmail.com)"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel