5 Puisi Chairil Anwar Paling Populer dan Legendaris

Sudah tentu, penyair Chairil Anwar si Binatang Jalang ini, adalah penyair muda yang karya-karyanya mampu membuat penyair lainnya, terdorong menulis puisi modern, gaya menulis puisinya sudah berhasil menyedot perhatian banyak kalangan, terlebih para ilmuwan, sastrawan, dan akademisi untuk membuat karya tulis ilmiah tentang puisi-puisinya. Jika dianalisis, mungkin tak sampai untuk dibahas di blog ini. Hanya secara umum, saya memandang bahwa puisi-puisi Chairil Anwar selalu mampu menjadi inspirasi bagi saya pribadi dalam menulis. Dari tema, diksi, pesan moral, rima, typografi, gaya bahasanya, membuat saya terkagum-kagum ingin bisa menulis sebaik Chairil Anwar, bahkan ingin melebihinya (hanya untuk memotivasi diri sendiri)

sumber gambar : merahputih.com


inilah lima puisi, yang secara sengaja saya publish di sudutkerlip.online, sebagai referensi puisi, terlebih puisi-puisi di bawah ini, sering juga dijadikan naskah untuk sebuah perlombaan baca puisi. selebihnya, kerap kali dijadikan bahan adaptasi untuk dijadikan naskah dramatisasi puisi dan musikalisasi puisi, pementasan drama, dan bisa juga dijadikan skenario film.

Selamat menyimak kembali puisi-puisi dari penyair yang ingin hidup seribu tahun lagi dalam sajaknya. dan meninggal dunia di usia muda. 

sumber gambar : deweez.com







AKU 

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


DOA
Kepada pemeluk teguh

TuhankU
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu…

Biar susah sungguh…
Mengingat Kau penuh seluruh…

CahyaMu panas suci…
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi…

Tuhanku
Aku hilang bentuk,,remuk

Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling…

13 November 1943


SAJAK PUTIH

Bersandar pada  tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah


DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini…
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api..

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali….
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati…

MAJU…

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu….

Sekali berarti
Sudah itu mati….

MAJU…

Bagimu Negeri
Menyediakan api….

Punah di atas menghamba…
Binasa di atas ditindas…
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai…
Jika hidup harus merasai…

Maju…
Serbu…
Serang…
Terjang…

(Februari 1943)


KARAWANG - BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "5 Puisi Chairil Anwar Paling Populer dan Legendaris"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel