Bersastra Sambil Traveling ke Kuala Lumpur dan Johor Malaysia (1)

Catatan Pengalaman Pertama ke Malaysia
Oleh : Ihsan Subhan

Sudah jadi impian setiap orang untuk pergi ke luar negeri. Bagi orang kampung seperti saya, yang tinggal di Cianjur Jawa Barat, pergi ke Malaysia adalah hal yang membahagiakan. Terlebih, saya belum pernah ke luar negeri sebelumnya, dan sangat beruntung sekali pernah pergi ke luar negeri. Ya. Meski baru ke negara ASEAN, yang memakan biaya rendah, dan mungkin bagi pejabat, pengusaha sukses, bahkan artis, selebritis, negara Asia adalah negara yang sudah biasa dikunjungi, entah itu setiap liburan, atau pun pergi tersebab keperluan pekerjaan.

Kali ini, saya ingin sedikit mengulas pengalaman-pengalaman yang sempat saya lakukan di negri jiran itu. Sebelum kita pergi ke luar negeri, tentu saja, syarat yang pertama adalah harus memiliki Paspor. Sebelum saya pergi ke Kuala Lumpur, sangat beruntung sekali, setengah tahun sebelum keberangkatan, saya sudah memiliki paspor.

Niat saya memiliki Paspor, adalah untuk pergi ke Singapur, tapi gagal pergi, karena ada pekerjaan yang sulit untuk ditinggalkan, selebihnya, persiapan keuangan belum terlalu matang pada waktu itu. Akhirnya, Buku Paspor saya tidak terpakai, dan hanya disimpan di holder book saya.

Pertengahan Nopember tahun 2018 kemarin. Tiba-tiba ada email masuk yang berisi ajakan untuk menghadiri acara Festival Nelayan di Johor. Dalam email tersebut, saya diharuskan untuk konfirmasi kehadiran, dengan mendaftarkan diri ke panitia penyelenggara. Tanpa berpikir panjang, saya pun mengisi form registrastion online itu, dan secara otomatis, masuk ke calender google di akun gmail saya.

Acara Festival Nelayan itu, ternyata isinya adalah acara sastra, di sana tertera, ada kunjungan ke beberapa tempat di Johor dan menggiati apresiasi puisi, serta diskusi puisi dan bertemu para penyair dari sembilan negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Rusia, Italia, Thailand, Myanmar, India) dan sastrawan negara Malaysia.

Akhirnya, pada tanggal enam Desember 2018, saya berangkat menggunakan pesawat murah Citilink. yang sudah dibooking tiga hari sebelum keberangkatan. Saya memesan tiket pesawat pulang pergi. Jakarta - Malaysia  (Citilink), Kuala Lumpur - Jakarta (Air Asia).

Setiba di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), orang Malaysia menyebut bandara dengan lapangan terbang. Haha. Sedikit aneh di telinga saya. Penggunaan diksi 'lapangan' dipakai oleh pesawat. Jika di Indonesia, kata 'lapangan' lazimnya dipakai untuk lahan olahraga dan atau tempat bermain saja.

Buat traveler, yang ingin terbang ke Malaysia, khususnya melalui bandar udara KLIA, jangan heran. Di sana bandaranya lebih mewah dari badara-bandara yang ada di pulau Jawa dan Sumatra. Perbandungannya Sumatra dan Jawa, soalnya saya baru menyinggahi badara-bandara yang ada di dua pulau itu. hehe.
Keadaan Kuala Lumpur pada saat hujan gerimis sesaat,tampak Menara Petronas dan gedung-gedung tinggi lainnya

KLIA sangat luas, bahkan lebih luas dari bandara Soekarno Hatta. Mulai dari Mall yang megah dan memiliki lantai yang bertingkat-tingkat. Saya perhatikan, banyak sekali barang-barang dan makanan yang dijual dan dipamerkan di sana. mulai dari makanan dari berbagai negara, sampai ke brand-brand clotihing mewah ada semua di sana. Untuk ulasan Mallnya saya akan tulis di bagian kedua dari catatan pengalaman saya ke Malaysia.


Dari KLIA ke Hotel Petaling Street - Pudu

Setiba di KLLA, saya langsung membeli kartu telepon selular, kumplit dengan paket telpon dan internetnya. Waktu itu saya membeli katu dengan merk "Hotlink". Buat teman-teman, kartu ini sangat recomanded banget menurut saya. Harganya cuma 25 ringgit. Dengan harga semurah itu, saya sudah bisa menikmati fasilitas intenet 2GB dan nelpon ke smua operator di Malaysia sekita 60 menit. Internet dan paket telpon tersebut dibatasi hanya 4 hari saja. Sangat sesuai dengan kebutuhan selama empat hari saya di Malaysia.

Tadinya untuk perjalanan saya dari KLIA ke Hotel China Town, akan menggunakan Grab. Tetapi ada perempuan sekitar umur 28 tahunan dari Surabaya, mengajak saya berangkat barsamaan. Sebab dirinya mau dijemput oleh suaminya yang bekerja di Kuala Lumpur. Saya pun sulit untuk menolak. Selain ngirit ongkos, saya pun masih kebingungan untuk menuju ke hotel yang sudah saya booking sebelumnya.

Selama perjalanan menuju ke  China Town, Pudu, Kuala Lumpur, saya memperhatikan keadaan kota yang amat jauh berbeda di Indonesia. Yaitu, sulit menemukan sampah. Jalanan di perkotaannya sangat bersih. Meski sebenarnya di kota Cianjur pun ada beberapa jalan yang bersih, tetapi kalah bersihnya dengan Malaysia.

Selain bersih, di Malaysia, jarang sekali masyarakatnya menggunakan sepeda motor. Mereka pengendara mobil semua. Bahkan selama perjalanan itu pun saya perhatikan dengan teliti, saya tidak menemukan tempat parkir motor. Sekali saya menemuka pengendara motor. Motor yang dipakainya adalah motor Kawasaki Ninja.

Di pertengahan jalan menuju hotel saya, ternyata mobil milik suami perempuan Surabaya itu, mogok. Ada masalah di gigi mobilnya. Setelah berhenti sejenak, suaminya menelpon montir, bahasa dipakai untuk komunikasi, tentu saja paka bahasa melayu. Hanya menunggu lima menit, montir datang, dan mobil tengah diperbaiki. Hanya untuk memperbaiki mobilnya, harus dibawa ke bengkel si montir itu. Akhirnya kami memutuskan untuk naik Grab. Kami pun naik Grab berbarengan. Setelah sampai di hotel mewah dekat menara kembar Petronas, mereka ke luar dan membayar Grab tunai, dan untuk perjalanan dari menara Petronas ke Hotel Pudu China Town, tentu saja, saya dibiayi oleh suami mbak Surabaya itu. Bahkan ada kembaliannya, lumayan  buat beli makan malam. (Bersambung...)

Tampaknya, catatan perjalanan saya, disudahi dulu sampai di sini. Nanti saya update lagi di postingan kedua, dan masih mengenai Malaysia.




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bersastra Sambil Traveling ke Kuala Lumpur dan Johor Malaysia (1)"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel