Puisi Tentang Buruh : Dongeng Marsinah, oleh Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono
DONGENG MARSINAH

Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi
Merakit jarum sekrip, dan roda gigi
Waktu memang tak pernah kompromi,
Ia sangat cermat dan hati-hati
Marsinah itu arloji sejati,
Tak lelah berdetak,
Memintal kefanaan yang abadi,
Kami ini tak banyak kehendak,
Sekedar hidup layak,
Sebutir nasi,
Marsinah kita tahu tidak bersenjata,
Ia hanya suka merebus kata sampai mendidih lalu meluap kemana-mana,
Ia suka berpikir kata siapa,
Itu sangat berbahaya,
Marsinah tidak ingin menyulut api,
Ia hanya memutar jarum arloji agar sesuai dengan matahari,
Ia tahu hakikat waktu kata siapa,
Dan harus dikembalikan ke asalnya,
Debu.
Di hari baik bulan baik, Marsinah dijemput di rumah tumpangan,
Untuk suatu perhelatan,
Ia diantar ke rumah siapa,
Ia disekap di ruang pengap,
Ia diikat ke kursi,
Mereka kira waktu bisa disumpal,
Agar lenting detiknya tidak terdengar lagi,
Marsinah tidak diberi air,
Ia tidak diberi nasi,
Detik pun gerah berloncatan kesana-kemari,
Dalam perhelatan itu, kepalanya ditetak, selangkangannya diacak-acak, tubuhnya dibirulebamkan dengan besi batangan,
Detik pun tergeletak,
Marsinah pun abadi,
Di hari baik bulan baik,
Tangis tak pantas,
Angin dan debu jalan,
Klakson dan asap knalpot, mengirimkan jenazahnya ke Nganjuk,
Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli, merekam waktu bersaksi,
Marsinah diseret dan dicampakkan,
Sempurna,
Sendiri.
Pangeran,
Apakah sebenarnya inti kekejaman?
Apakah sebenarnya sumber keserakahan?
Apakah sebenarnya asas kekuasaan?
Dan apakah sebenarnya hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula makna pertanyaan?
Saya ini Marsinah, buruh pabrik arloji
Ini sorga bukan?
Jangan saya diusir dari surga, dikembalikan ke dunia lagi
Jangan saya dikirim ke neraka itu lagi
Malaikat tak suka banyak berkata,
Ia sudah paham maksudnya,
Sengsara betul hidup di sana jika suka berpikir, jika suka memasak kata
Apa sebaiknya kita ini menggelinding saja bagai bola sodok, bagai roda pedati?
Malaikat tak suka banyak berkata,
Ia biarkan terbang terbuka,
Saya ini Marsinah
Saya tak mengenal wanita berotot, yang mengepalkan tangan, yang tampangnya garang di poster-poster itu
Saya tidak pernah jadi perhatian dalam upacara,
Dan tidak tahu harga sebuah rencana
Malaikat tak suka banyak berkata,
Tapi lihat! ia seperti terluka
Marsinah itu arloji sejati,
Melingkar di pergelangan tangan kita ini,
Dirabanya denyut nadi kita,
Dan diingatkannya agar belajar memahami hakikat presisi,
Kita tatap wajahnya, setiap pergi dan pulang kerja,
Kita rasakan setiap detiknya dalam setiap getaran kata,
Marsinah itu arloji sejati,
Melingkar di pergelangan tangan kita ini.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Puisi Tentang Buruh : Dongeng Marsinah, oleh Sapardi Djoko Damono"

Posting Komentar

tulis komentar anda yang paling keren di sini

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel